Rabu, 22 Desember 2010

Pembangunan EKONOMI atau Pembangunan EKOLOGI ?!!

“... our environment and economic are moral issues - our own food, NOT a political football, cann’t be separated..”


Sektor yang mengalami benturan paling keras dengan urusan lingkungan hidup atau yang biasa disebut ekologi adalah ekonomi. Sebagian besar pemikiran ekonomi, mulai dari yang Marxis sampai Monetarian terbukti gagal mengaplikasikan kepedulian lingkungan pada kenyataan dalam praktik ekonomi.

Ekonomi global yang tersusun saat ini tidak mungkin bisa berkembang lebih lama jika ekosistem menjadi semakin rusak. Banyak sekali sumber-sumber alam dikeruk sehingga berpeluang rusak dan habis dalam waktu dekat. Kemana manusia akan bergantung apabila obyek yang menjadi sumber kehidupannya punah? Contoh yang paling umum adalah minyak bumi yang cadangannya semakin menipis sementara bahan bakar alternatif belum sepenuhnya dikembangkan.

Setelah revolusi industri pada tahun 1900-an, pelaku ekonomi perusahaan multinasional memberlakukan alam sebagai sumber daya yang tak terbatas dan dimanfaatkan sepenuhnya untuk ‘kepentingan manusia’. Begitu halnya di negara kita, Indonesia, pengaruh ekonomi global dengan sistem kapitalis yang dianut negara-negara kreditor sangat mempengaruhi sistem perekonomian dan investasi serta gaya hidup. Maka terjadilah eksploitasi sumber daya alam yang berlebihan, perusakan hutan dan daerah pesisir laut. Era pembangunan membawa persoalan lingkungan dan manusia semakin berbeda. Saat ini, konsep pembangunan telah membuktikan bahwa kemakmuran suatu negara dapat terwujud hanya melalui investasi modal dan utang luar negeri sebagai dasar membangun masa depan. Untuk itu, negara harus memberikan kemudahan berupa jaminan hukum, jaminan keamanan bagi para pemilik modal untuk mengakumulasi sumberdaya alam tanpa mengindahkan nasib lingkungan hidup sebagai sumber kehidupan rakyat. Sehingga tidaklah mengherankan apabila kajian lingkungan seperti AMDAL dibuat seadanya hanya sebagai sarat formalitas berdirinya sebuah industri. Kemudian treatment sampah hasil industri ataupun IPAL (instalasi pengolahan air limbah) baik industri skala kecil maupun besar selalu mencari alternatif yang mudah dengan pertimbangan utama untuk menekan biaya tinggi yang memberatkan dan yang paling memalukan adalah pemerintah daerah sering tidak konsisten dalam menerapkan apa yang mereka suarakan demi kepentingan investasi.

Ekologi seringkali diabaikan, padahal nilai ekologi sama pentingnya dengan nilai ekonomi. Sehingga mengakibatkan terganggunya keseimbangan ekosistem, seperti meningkatnya suhu udara, pencemaran udara (meningkatnya kadar karbonmonoksida, ozon, karbondioksida, dan debu), menurunnya air tanah dan permukaan tanah, banjir atau genangan, meningkatnya kandungan logam berat dalam air tanah, dan masih banyak lagi. Efek peningkatan jumlah kendaraan bermotor, secara otomatis juga akan meningkatkan jumlah gas emisi (penurunan kualitas udara). Belum lagi bentuk ekplorasi alam misalanya pertambangan yang hanya menguntungkan segelintir orang dan efek kerusakan alam yang ditanggung oleh banyak orang yang tidak pernah mencicipi keuntungan tersebut (yang miskin lebih miskin, yang kaya lebih kaya). Atas nama peningkatan dan pembangunan ‘ekonomi’ bentuk-bentuk eksploitasi alam yang ada masih terus diperpanjang hingga nyaris tak berhingga.

Masyarakat belum sepenuhnya menyadari, bahwa banyak permasalahan pembangunan dan modernisasi kehidupan yang mengakibatkan kerusakan lingkungan, akan menuju kepada permasalahan ekonomi dan sosial-budaya dalam jangka panjang. Contoh sederhana seperti degradasi lingkungan di sekitar suatu perusahaan justru akan menciptakan ekonomi biaya tinggi. Perusahaan harus mengalokasikan biaya ekstra untuk memperoleh air bersih atau melakukan treatment untuk udara dan air yang tercemar.

Biosfer bumi merupakan sumber dan tata kehidupan yang memberikan manfaat ekologi (ecological benefit), manfaat ekonomi (economical benefit), dan manfaat sosial (social benefit). Tiga pilar tersebut menjadi sumber dari tata keberlanjutan kehidupan bagi manusia maupun bagi keberlangsungan lingkungan hidup itu sendiri. Tiga pilar ini merupakan rantai keberlangsungan bagi kehidupan manusia dan beban yang paling mempengaruhi kesejahtraan manusia adalah bersumber pada ekologi yang memberi efek pada kemakmuran ekonomi dan sosial-budaya. Ekonomi tidak akan bergerak tanpa sumberdaya alam.

Ekologi harus dipandang sebagai aset utama di dalam proses ekonomi yang berdampak pada kehidupan sosial-budaya manusia. Industri masa datang harus mampu berproduksi dalam jangka panjang dengan tetap memelihara ekosistemnya. Untuk melestarikan ekosistem, kegiatan pembangunan industri harus mencegah pencemaran, mengurangi emisi-emisi, melestarikan keanekaragaman hayati, menggunakan sumber daya biologi terpulihkan secara berkelanjutan dan mempertahankan keterpaduan ekosistem-ekosistem lain dalam ekosistem besar biosfer bumi. Penempatan nilai ekologi dalam ekonomi sangat diperlukan dalam menghitung kerugian seperti akibat pencemaran lingkungan yang dilakukan suatu perusahaan, kerusakan hutan, kerusakan lahan, pantai, laut dan sebagainya.

Pemikiran Ecological Economics ditawarkan sebagai bentuk pemikiran alternatif yang memberikan penjelasan bagaimana sistem ekonomi bekerja dalam sebuah ekosistem (biosphere) sangat diperlukan. Ecological Economics ini merupakan alternatif penyeimbang dalam pembangunan ekonomi nasional. Kita memiliki hampir semua modal pembangunan, modal sumber daya alam yang besar, modal sosial yang khas, yang semuanya perlu dijaga keharmonisannya dalam sebuah kerangka pembangunan yang pas. Sudah saatnya kita mengubah cara pandang terhadap pembangunan. Titik berat keberhasilan pembangunan harus diukur dengan nilai ekologi yaitu bagaimana manusia hidup selaras, harmonis dengan alam. Pembangunan yang menjaga keharmonisan memberikan peran manusia sebagai bagian dari komunitas dan ekosistem terutama memberi prioritas pada kelestarian bentuk-bentuk kehidupan alam untuk mencapai kesejahtraan dan kemakmuran rakyat serta sadar bahwa ekonomi bukanlah tanpa batas.

0 komentar:

Posting Komentar

 
design by Grumpy Cow Graphics | Distributed by Deluxe Templates